Ads 468x60px

Jumat, 03 Januari 2014

Makalah:cabang-cabang Ilmu Linguistik



A.   FONOLOGI
            Fonologi adalah bagian tata bahasa atau bidang ilmu bahasa yang menganalisis bunyi bahasa secara umum. Istilah fonologi ini berasal dari gabungan dua kata Yunani yaitu phone yang berarti bunyi dan logos yang berarti tatanan, kata, atau ilmu disebut           juga tata bunyi. Fonologi secara etimologi terbentuk dari kata.

            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi – bunyi bahasa menurut fungsinya. Menurut Kridalaksana (1984:51) fonologi (inggris phonology, Amerika phonemics) ialah bidang dalam linguistic yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya dan disebut  juga fonemik. Sedangkan menurut Crystal (1995), phonology (phonology-ical) is a branch of linguistics which studies the sound system of languages ( Fonologi ialah cabang dari ilmu bahasa atau lingusitik yang mempe;ajari system bunyi-bunyi bahasa).

            Dengan demikian fonologi adalah merupakan sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatakan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa.

            Sebenarnya, objek kajian fonologi ada dua, yaitu fonetik dan fonemik. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi bahasa tanpa melihat fungsi bunyi-bunyi bahasa tanpa melihat fungsi bunyi-bunyi itu sebagai pembeda makna dalam suatu bahasa, sedangkan fonemik mempelajari bunyi-bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi-bunyi tersebut sebagai pembeda makna dalam suatu bahasa.


  Fonologi dalam tataran ilmu bahasa dibagi dua bagian, yakni:
1. Fonetik
            Fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi – bunyi bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan. Adapun jenis-jenis fonetik adalah
a.    Fonetik organis
Fonetik organis ( fonetik artikulatoris atau fonetik fisiologis ) ialah fonetik yang mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara (alat-alat ucap) yang ada dalam tubuh manusia meghasilkan bunyi bahasa). Bagaimana bunyi bahasa itu diucapkan dan dibuat, serta bagaimana bunyi bahasa diklasifikasi berdasarkan artikulasinya.fonetik jenis ini banyak berkaitan dengan linguistic sehingga oleh para linguis (ahli bahasa), khususnya para ahli fonetik,  cenderung dimasukkan kedalam linguistuk (ilmu bahasa).
b.    Fonetik akustis
Fonetik akustis mempelajri bunyi bahasa dari segi bunyi sebagai gejala fisis. Bunyi-bunyi diselidiki frekuensi getarannya, amplitude, intensitas, dan timbrenya. Ilmu fonetik akustis ini mempelajari hakikat dan mengklasifikasikan bunyi berdasarkan hakikat bunyi tersebut. Fonetik jenis ini banyak berkaitan dengan ilmu fisika dalam laboratorium fonetis, berguna untuk membuat telepon, perekam piringan hitam, dan sejenisnya.
c.    Fonetik auditoris
Fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme telinga menerima bunyi bahasa sebagai getaran udara. Bidang fonetik jenis ini cenderung dimasukkan kedalam neurologi ilmu kedokteran.

2. Fonemik

            Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem tidak dapat berdiri sendiri karena belum mengandung arti.
Fonemisasi adalah usaha untuk menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut.
Fonem sebuah istilah linguistik dan merupakan satuan terkecil dalam sebuah bahasa yang masih bisa menunjukkan perbedaan makna. Fonem berbentuk bunyi.Misalkan dalam bahasa Indonesia bunyi [k] dan [g] merupakan dua fonem yang berbeda, misalkan dalam kata "cagar" dan "cakar". Tetapi dalam bahasa Arab hal ini tidaklah begitu. Dalam bahasa Arab hanya ada fonem /k/.
Sebaliknya dalam bahasa Indonesia bunyi [f], [v] dan [p] pada dasarnya bukanlah tiga fonem yang berbeda. Kata provinsi apabila dilafazkan sebagai [propinsi], [profinsi] atau [provinsi] tetap sama saja.
Fonem tidak memiliki makna, tapi peranannya dalam bahasa sangat penting karena fonem dapat membedakan makna. Misalnya saja fonem [l] dengan [r]. Jika kedua fonem tersebut berdiri sendiri, pastilah kita tidak akan menangkap makna. Akan tetapi lain halnya jika kedua fonem tersebut kita gabungkan dengan fonem lainnya seperti [m], [a], dan [h], maka fonem [l] dan [r] bisa membentuk makna /marah/ dan /malah/. Bagi orang Jepang kata marah dan malah mungkin mereka anggap sama karena dalam bahasa mereka tidak ada fonem [l].
Terjadinya perbedaan makna hanya karena pemakaian fonem /b/ dan /p/ pada kata tersebut. Contoh lain: marilari, dari, tari, sari, jika satu unsur diganti dengan unsur lain maka akan membawa akibat yang besar yakni perubahan arti.

B.   MORFOLOGI

            Morfologi Adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal
           Morfologi mempelajari seluk beluk bentuk serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik
Jenis-jenis Morfem
            Berdasarkan kriteria tertentu, kita dapat mengklasifikasikan morfem menjadi berjenis-jenis. Penjenisan ini dapat ditinjau dari dua segi yakni hubungannya dan distribusinya (Samsuri, 1982:186; Prawirasumantri, 1985:139). Agar lebih jelas, berikut ini sariannya.

1)         Ditinjau dari Hubungannya
            Pengklasifikasian morfem dari segi hubungannya, masih dapat kita lihat dari hubungan struktural dan hubungan posisi.

a)         Ditinjau dari Hubungan Struktur
            Menurut hubungan strukturnya, morfem dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu morfem bersifat aditif (tambahan) yang bersifat replasif (penggantian), dan yang bersifat substraktif (pengurangan).
            Morfem yang bersifat aditif yaitu morfem-morfem yang biasa yang pada umumnya terdapat pada semua bahasa, seperti pada urutan putra, tunggal, -nya, sakit. Unsur-unsur morfem tersebut tidak lain penambahan yang satu dengan yang lain.
            Morfem yang bersifat replasif yaitu morfem-morfem berubah bentuk atau berganti bentuk dari morfem asalnya. Perubahan bentuk itu mungkin disebabkan oleh perubahan waktu atau perubahan jumlah. Contoh morfem replasif ini terdapat dalam bahasa Inggris. Untuk menyatakan jamak, biasanya dipergunakan banyak alomorf. Bentuk-bentuk /fiyt/, /mays/, /mεn/ masing-masing merupakan dua morfem /f…t/, /m…s/, /m…n/ dan /iy ← u/, /ay ← aw/, /ε/, /æ/. Bentuk-bentuk yang pertama dapat diartikan masing-masing ‘kaki’, ‘tikus’, dan ‘orang’, sedangkan bentuk-bentuk yang kedua merupakan alomorf-alomorf jamak. Bentuk-bentuk yang kedua inilah yang merupakan morfem-morfem atau lebih tepatnya alomorf-alomorf yang bersifat penggantian itu, karena /u/ diganti oleh /iy/ pada kata foot dan feet, /aw/ diganti oleh /ay/ pada kata mouse dan mice, dan /æ/ diganti oleh / ε/  pada kata man dan men.
          
b)         Ditinjau dari Hubungan Posisi
            Dilihat dari hubungan posisinya, morfem pun dapat dibagi menjadi tiga macam yakni ; morfem yang bersifat urutansisipan, dan simultan. Tiga jenis morfem ini akan jelas bila diterangkan dengan memakai morfem-morfem imbuhan dan morfem lainnya.
Contoh morfem yang bersifat urutan terdapat pada kata berpakaian yaitu / ber-/+/-an/. Ketiga morfem itu bersifat berurutan yakni yang satu terdapat sesudah yang lainnya.
Contoh morfem yang bersifat sisipan dapat  dilihat dari kata / telunjuk/. Bentuk tunjuk merupakan bentuk kata bahasa Indonesia di samping telunjuk. Kalau diuraikan maka akan menjadi / t…unjuk/+/-e1-/.
Morfem simultan atau disebut pula morfem tidak langsung terdapat pada kata-kata seperti /khujanan/. /ksiaηgan/ dan sebagainya. Bentuk /khujanan/ terdiri dari /k…an/ dan /hujan/, sedang /kesiangan/ terdiri dari /ke…an/ dan /siaη/. Bentuk /k-an/ dalam bahasa Indonesia merupakan morfem simultan, terbukti karena bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk /khujan/ atau /hujanan/ maupun /ksiaη/ atau /sianaη/. Morfem simultan itu sering disebut morfem kontinu ( discontinous morpheme ).

2)         Ditinjau dari Distribusinya
            Ditinjau dari distribusinya, morem dapat dibagi menjadi dua macam yaitumorfem bebas dan morem ikat. Morfem bebas ialah morfem yang dapat berdiri dalam tuturan biasa , atau morfem yang dapat berfungsi sebagai kata, misalnya :bunga, cinta, sawah, kerbau. Morfem ikat yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, misalnya : di-, ke-, -i, se-, ke-an. Disamping itu ada bentuk lain seperti juang, gurau, yang selalu disertai oleh salah satu imbuhan baru dapat digunakan dalam komunikasi yang wajar. Samsuri ( 1982:188 )menamakan bentuk-bentuk seperti bunga, cinta, sawah, dan kerbau dengan istilah akar; bentuk-bentukseperti di-,ke-, -i, se-, ke-an dengan nama afiks atau imbuhan; dan juang, gurau dengan istilah pokok. Sementara itu Verhaar (1984:53)berturut-turut dengan istilah dasar afiks atau imbuhan dan akar. Selain itu ada satu bentuk lagi sepertibelia, renta, siur yang masing-masing hanya mau melekat pada bentuk muda, tua, dan simpang, tidak bisa dilekatkan pada bentuk lain. Bentuk seperti itu dinamakanmorfem unik.

C.   SINTAKSIS

            Sintaksis (syntax) adalah pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata, atau dengan satuan-satuan yang lebih besar, atau antara satuan-satuan yang lebih besar itu dalam bahasa (Kridalaksana, 1984). Menurut Keraf (1982), sintaksis (Yunani : sun + tattein = mengatur bersama-sama) adalah bagian dari tata bahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa.
           
            Pengertian sintaksis dapat pula dikatakan bahwa sintaksis adalah salah satu tataran (level) dalam gramitika (tata bahasa) yang mempersoalkan hubungan antara kata dengan satuan-satuan yang lebih besar, membentuk suatu konstruksi yang disebut kalimat. Umumnya, pembicaraan yang lebih meluas dan mendalam dalam studi sintaksis, selain perangkat-perangkat sintaksis juga deskripsi tentang pola-pola serta konstituen-konstituennya.

            Kata merupakan satuan terkecil dalam sintaksis, satuan yang lebih besar daripada kata, secara berturut-turut, ialah frasa, klausa dan kalimat. Sebenarnya dalam kajian subsistem ilmu bahasa, kata berada pada pada tataran morfologi. Akan tetapi dalam studi sintaksis keberadaan kata sebagai satuan terkecilnya sangatlah penting

            Sebgai suatu konstruksi, satuan-satuan sintaksis dibentuk oleh unsur-unsur yang membangun pola-pola. Suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendeskripsikan pola-pola yang mendasari satuan-satuan sintaksis serta konstituen-konstituennya lazim disebut analisis sintaksis. Untuk kegiatan seperti itu, diperlukan perangkat-perangkat analisis yang diharapkan mampu menjelaskan atau mendeskripsikan pola-pola konstruksi sintaksis. Perangkat-perangkat itu antara lain: (1) alat sintaksis, (2) satuan sintaksis, (3) fungsi sintaksis, (4) kategori sintaksis, dan (5) peran sintaksis. Kelima perangkat sintaksis tersebut akan dikemukakan secara singkat berikut ini.
1.    Perangkat Alat Sintaksis
Perangkat alat sintaksis terdiri dari:
a.    Urutan
Sebagai alat sintaksis, urutan mempersoalkan apakah urutan satuan sintaksis menetukan terwujudnya suatu konstruksi. Untuk mengetahui hal ini, kita dapat menguji dengan cara menanyakan kepada penutur asli suatu bahasa apakah urutan yang dimaksud berterima dalam bahasanya atau tidak. Misalnya, kita dapat menguji” Roti makan ibu” sebagai urutan atau konstruksi berterima? Bagi penutur bahasa Indonesia, sudah barang tentu akan menolaknya dan akan mengatakan bahwa urutan yang berterima adalah “ibu makan roti”.
b.    Bentuk kata
Sebagaimana halnya urutannya, bentuk kata juga dapat digunakan untuk mendeskripsikan apakah suatu konstruksi itu gramatikal atau tidak. Dengan kata lain, apakah munculnya suatu bentuk mempengaruhi gramatikal suatu konstruksi? Hal ini juga dapat diuji dengan cara menanyakan kepada penutur bahasa Indonesia. Misalnya, mana yang berterima di antara kedua konstruksi berikut ini?
a)    Roti makan ibu.
b)    Ibu makan roti.
Penutur bahasa Indonesia akan menolak konstruksi a) dan menerima konstruksi b), munculnya afiks di- pada kata dimakan merupakan syarat diterimanya konstruksi a).
c.    Kata Tugas
Kehadiran kata tugas dalam suatu konstruksi bersifat wajib. Misalnya, dalam ujaran “Ibu memasak dapur” terdapat unsur yang tidak hadir, yaitu preposisi di-. Ujaran itu barulah berterima jika di depan nomina dapur diletakkan preposisi di, sehingga ujaran itu selengkanya berbunyi “Ibu memasak di dapur.”
d.    Intonasi
Sebagai alat sintaksis, intonasi membatasi satuan-satuan sintaksis, baik berupa kata, frasa, klausa, maupun berupa kalimat. Dalam bahasa tulis misalnya, intonasi direalisasikan dengan tanda baca, sedangkan dalam bahasa lisan direalisasikan dengan nada, irama, dan kesenyapan (intonasi final). Sebuah konstruksi klausa akan berubah statusnya menjadi kalimat jika kepada klausa itu diberikan intonasi final.
2.    Perangkat Satuan Sintaksis
Sintaksis dapat dideskripsikan atas kontruksi satuan-satuannya. Dengan perkataan lain, satuan sintaksis itu disusun oleh satuan-satuan yang lebih kecil. Setiap konstruksi satuan sintaksis dengan demikian dapat dikenali jenis (statusnya), apakah kata, frasa, klausa, atau kalimat. Tiap satuan ini memperlihatkan polanya sendiri-sendiri.
a.    Kata
Kata dapat dikeali dari unsur dan proses pembentukannya. Ada kata yang unsurnya atas satu morfem da nada yang lebih dari satu morfem. Ada yang mengalami proses gramatikalisasi, seperti afiksasi, reduplikasi, pemendekan, dan penggabungan; ada pula yang tidak mengalami proses gramatikalisasi, yaitu kata dasar.
b.    Frasa
Frasa dapat dikenali sebagai suatu kelompok kata yang berstrukur yang bukan klausa dan dapat dipecah menjadi kata. Dalam kaitannya dengan distribusinya dalam kalimat, ada yang berciri endosentris dan ada pula yang berciri eksosentris. Dikatakan berciri endosentris apabila frasa itu dalam distribusinya dapat digantikan oleh unsur-unsurnya. Sebaliknya, dikatakan berciri eksosentris apabila digantikan oleh distribusinya dalam kalimat tidak dapat digantikan oleh unsur-unsurnya.
Analisis selanjutnya dapat mengkaji kategori (kelas) kata dari konstiten frasa itu, apakah nomina, verba, adjektiva, atau yang lain.
c.    Klausa
Hal-hal yang dapat dianalisis dari konstruksi klausa, antara lain: distribusi satuannya dan struktur internalnya.
Berdasarkan distribusinya, klausa dibedakan atas klausa bebas dan klausa terikat. Disebut klausa bebas karena klausa ini dapat berdiri sendiri sebagai sebagai kalimat tunggal, sedangkan klausa terikat memiliki ciri tidak dapat berdiri sendiri sebagai anak tunggal.
Selain itu, berdasarkan struktur internalnya, klausa bebas dibedakan atas klausa transitif, klausa intransitive, dan klausa ekualif. Klausa terikat (tak bebas) berdasarkan struktur internalnya dibedakan atas klausa nominal, klausa adjectival, dan klausa adverbial.
d.    Kalimat
Kalimat sebagai satuan sintaksis terbesar dapat dianalisis berdasarkan lima ukuran, yaitu: (1) jumlah dan macam klausa, (2) struktur internal klausa utama, (3) jenis tanggapan yang diharapkan, (4) sikap pelaku perbuatan dalam klausanya, dan (5) ada tdaknya unsur ingkar dalam predikat utama.
3.    Perangkat Fungsi Sintaksis
Bersama – sama dengan kategori dan peran fungsi sintaksis memperlihatkan tataran. Tataran paling atas ditempati oleh fungsi tataran di bawahnya ditempati oleh kateri, dan taran paling bawah ditempati oleh peran-peran sintaksis.
Fungsi sintaksis itu sendiri tidak memiliki bentuk dan tidak memiliki makna tertentu. Tetapi harus diisi oleh bentuk tertentu dan makna tertentu. Fungsi yang dimaksud ini semacam kotak atau slot yang harus diisi. Menurut Verhaar (1981), dalam tata kalimat bahasa Indonesia dikenal beberapa fungsi sintaksis, yaitu: Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan. Sedangkan menurut Greenberg (1966), fungsi-fungsi sintaksis bahasa-bahasa di dunia (secara universal) terdiri atas: Subjek, Verba, objek, dan Komplemen.
4.    Perangkat Kategori Sintaksis
Di atas dijelaskan bahwa fungsi sintaksis secara konkret adalah tempat (kotak, slot) yang harus diisi, antara lain oleh pengisi kategorial (menurut bentuknya). Jadi, kategori adalah pengisi fungsi sintaksis. Menurut Verhaar (1981), dalam bahasa Indonesia dikenal adanya beberapa kategori sintaksis, antara lain: nomina (kata benda), verba (kata kerja), adjektiva (kata sifat), preposisi (kata depan), dan sebagainya. Jadi, kata-kata seperti itu merupakan pengisi kategori sintaksis.
5.    Perangkat Peran Sintaksis
Seperti dikemukakan diatas, peran sintaksis merupakan tataran paling bahwa dalam tataran analisis sintaksis. Peran sintaksis(peran semantik) dalam bahasa Indonesia adalah: pelaku (agentif), tindakan (aksi), tujuan/sasaran (objektif), penerima (benefaktif), penyebab (klausal), alat (instrumentl), waktu (temporal), tempat (lokatif), sandangan (pasif), dan pemilikan (posesif).
Analisis fungsi, kategori, dan peran sintaksis (peran semantic) dapat diilustrasikan dengan contoh berikut:
                        Ali                   melihat           ani
Fungsi           :           (S)                   (P)                   (O)
Kategori:        (N)                   (V)                   (N)
Peran :           (pelaku)         (tindakan)      (Sasaran/Tujuan)    



Di susun oleh:
Kelompok 4
1.    Zulhanah
2.    Aleksius B. Balur
3.    Afuwun Munjiyah

           






Tidak ada komentar:

Posting Komentar