A. FONOLOGI
Fonologi
adalah bagian tata bahasa atau bidang ilmu bahasa yang menganalisis bunyi
bahasa secara umum. Istilah fonologi ini berasal dari gabungan dua kata Yunani
yaitu phone yang
berarti bunyi dan logos yang berarti tatanan, kata, atau ilmu
disebut juga tata bunyi.
Fonologi secara etimologi terbentuk dari kata.
Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (1997) dinyatakan bahwa fonologi adalah bidang dalam linguistik yang
menyelidiki bunyi – bunyi bahasa menurut fungsinya. Menurut Kridalaksana
(1984:51) fonologi (inggris phonology, Amerika phonemics) ialah bidang dalam
linguistic yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya dan
disebut juga fonemik. Sedangkan menurut
Crystal (1995), phonology (phonology-ical) is a branch of linguistics which
studies the sound system of languages ( Fonologi ialah cabang dari ilmu bahasa
atau lingusitik yang mempe;ajari system bunyi-bunyi bahasa).
Dengan demikian fonologi adalah merupakan sistem bunyi
dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatakan bahwa fonologi adalah ilmu
tentang bunyi bahasa.
Sebenarnya, objek kajian fonologi ada dua, yaitu fonetik
dan fonemik. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi bahasa tanpa melihat fungsi
bunyi-bunyi bahasa tanpa melihat fungsi bunyi-bunyi itu sebagai pembeda makna
dalam suatu bahasa, sedangkan fonemik mempelajari bunyi-bunyi bahasa dengan
memperhatikan fungsi bunyi-bunyi tersebut sebagai pembeda makna dalam suatu
bahasa.
Fonologi dalam tataran ilmu
bahasa dibagi dua bagian, yakni:
1. Fonetik
Fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi – bunyi
bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan.
Adapun jenis-jenis fonetik adalah
a. Fonetik organis
Fonetik organis ( fonetik artikulatoris atau fonetik fisiologis )
ialah fonetik yang mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara (alat-alat
ucap) yang ada dalam tubuh manusia meghasilkan bunyi bahasa). Bagaimana bunyi
bahasa itu diucapkan dan dibuat, serta bagaimana bunyi bahasa diklasifikasi
berdasarkan artikulasinya.fonetik jenis ini banyak berkaitan dengan linguistic
sehingga oleh para linguis (ahli bahasa), khususnya para ahli fonetik, cenderung dimasukkan kedalam linguistuk (ilmu
bahasa).
b. Fonetik akustis
Fonetik akustis mempelajri bunyi bahasa dari segi bunyi sebagai
gejala fisis. Bunyi-bunyi diselidiki frekuensi getarannya, amplitude,
intensitas, dan timbrenya. Ilmu fonetik akustis ini mempelajari hakikat dan
mengklasifikasikan bunyi berdasarkan hakikat bunyi tersebut. Fonetik jenis ini
banyak berkaitan dengan ilmu fisika dalam laboratorium fonetis, berguna untuk
membuat telepon, perekam piringan hitam, dan sejenisnya.
c. Fonetik auditoris
Fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme telinga menerima
bunyi bahasa sebagai getaran udara. Bidang fonetik jenis ini cenderung
dimasukkan kedalam neurologi ilmu kedokteran.
2. Fonemik
Fonem adalah
satuan bunyi bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan memiliki
fungsi untuk membedakan makna. Fonem tidak dapat berdiri sendiri karena belum
mengandung arti.
Fonemisasi adalah usaha untuk
menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut.
Fonem sebuah istilah linguistik dan merupakan satuan
terkecil dalam sebuah bahasa yang masih bisa
menunjukkan perbedaan makna. Fonem berbentuk bunyi.Misalkan dalam bahasa
Indonesia bunyi [k] dan [g] merupakan dua fonem yang berbeda, misalkan
dalam kata "cagar" dan "cakar". Tetapi dalam bahasa
Arab hal ini tidaklah begitu. Dalam bahasa Arab hanya ada fonem
/k/.
Sebaliknya dalam bahasa Indonesia bunyi [f], [v] dan [p]
pada dasarnya bukanlah tiga fonem yang berbeda. Kata provinsi apabila dilafazkan
sebagai [propinsi], [profinsi] atau [provinsi] tetap sama saja.
Fonem tidak memiliki makna,
tapi peranannya dalam bahasa sangat penting karena fonem dapat membedakan
makna. Misalnya saja fonem [l] dengan [r]. Jika kedua fonem tersebut berdiri
sendiri, pastilah kita tidak akan menangkap makna. Akan tetapi lain halnya jika
kedua fonem tersebut kita gabungkan dengan fonem lainnya seperti [m], [a], dan
[h], maka fonem [l] dan [r] bisa membentuk makna /marah/ dan /malah/. Bagi
orang Jepang kata marah dan malah mungkin mereka anggap sama karena dalam
bahasa mereka tidak ada fonem [l].
Terjadinya perbedaan makna
hanya karena pemakaian fonem /b/ dan /p/ pada kata tersebut. Contoh lain: mari, lari,
dari, tari, sari, jika satu unsur diganti dengan unsur lain maka akan
membawa akibat yang besar yakni perubahan arti.
B.
MORFOLOGI
Morfologi Adalah cabang linguistik yang
mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal
Morfologi
mempelajari seluk beluk bentuk serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata
itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik
Jenis-jenis Morfem
Berdasarkan kriteria tertentu, kita
dapat mengklasifikasikan morfem menjadi berjenis-jenis. Penjenisan ini dapat
ditinjau dari dua segi yakni hubungannya dan distribusinya (Samsuri, 1982:186;
Prawirasumantri, 1985:139). Agar lebih jelas, berikut ini sariannya.
1)
Ditinjau dari Hubungannya
Pengklasifikasian morfem dari segi hubungannya, masih dapat kita lihat dari
hubungan struktural dan hubungan posisi.
a)
Ditinjau dari Hubungan Struktur
Menurut hubungan strukturnya, morfem dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu
morfem bersifat aditif (tambahan) yang bersifat replasif (penggantian),
dan yang bersifat substraktif (pengurangan).
Morfem yang bersifat aditif yaitu morfem-morfem yang biasa yang pada umumnya
terdapat pada semua bahasa, seperti pada urutan putra, tunggal, -nya,
sakit. Unsur-unsur morfem tersebut tidak lain penambahan yang satu dengan
yang lain.
Morfem yang bersifat replasif yaitu morfem-morfem berubah bentuk atau berganti
bentuk dari morfem asalnya. Perubahan bentuk itu mungkin disebabkan oleh
perubahan waktu atau perubahan jumlah. Contoh morfem replasif ini terdapat
dalam bahasa Inggris. Untuk menyatakan jamak, biasanya dipergunakan banyak
alomorf. Bentuk-bentuk /fiyt/, /mays/, /mεn/ masing-masing merupakan dua morfem
/f…t/, /m…s/, /m…n/ dan /iy ← u/, /ay ← aw/, /ε/, /æ/. Bentuk-bentuk yang
pertama dapat diartikan masing-masing ‘kaki’, ‘tikus’, dan ‘orang’, sedangkan
bentuk-bentuk yang kedua merupakan alomorf-alomorf jamak. Bentuk-bentuk yang
kedua inilah yang merupakan morfem-morfem atau lebih tepatnya alomorf-alomorf
yang bersifat penggantian itu, karena /u/ diganti oleh /iy/ pada kata foot dan feet,
/aw/ diganti oleh /ay/ pada kata mouse dan mice,
dan /æ/ diganti oleh / ε/ pada kata man dan men.
b)
Ditinjau dari Hubungan Posisi
Dilihat dari hubungan posisinya, morfem pun dapat dibagi menjadi tiga macam
yakni ; morfem yang bersifat urutan, sisipan, dan simultan.
Tiga jenis morfem ini akan jelas bila diterangkan dengan memakai morfem-morfem
imbuhan dan morfem lainnya.
Contoh morfem yang bersifat urutan terdapat pada kata berpakaian yaitu
/ ber-/+/-an/. Ketiga morfem itu bersifat berurutan yakni yang satu terdapat
sesudah yang lainnya.
Contoh morfem yang bersifat sisipan dapat dilihat dari
kata / telunjuk/. Bentuk tunjuk merupakan bentuk kata bahasa
Indonesia di samping telunjuk. Kalau diuraikan maka akan menjadi /
t…unjuk/+/-e1-/.
Morfem simultan atau disebut pula morfem tidak langsung terdapat
pada kata-kata seperti /k∂hujanan/. /k∂siaηgan/ dan sebagainya. Bentuk
/k∂hujanan/ terdiri dari /k∂…an/ dan /hujan/, sedang
/kesiangan/ terdiri dari /ke…an/ dan /siaη/. Bentuk /k∂-an/ dalam bahasa Indonesia
merupakan morfem simultan, terbukti karena bahasa Indonesia tidak mengenal
bentuk /k∂hujan/ atau /hujanan/ maupun /k∂siaη/ atau /sianaη/. Morfem simultan itu
sering disebut morfem kontinu ( discontinous morpheme ).
2)
Ditinjau dari Distribusinya
Ditinjau dari distribusinya, morem dapat dibagi menjadi dua macam yaitumorfem
bebas dan morem ikat. Morfem bebas ialah morfem yang dapat
berdiri dalam tuturan biasa , atau morfem yang dapat berfungsi sebagai kata,
misalnya :bunga, cinta, sawah, kerbau. Morfem ikat yaitu morfem yang
tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, misalnya : di-, ke-,
-i, se-, ke-an. Disamping itu ada bentuk lain seperti juang, gurau,
yang selalu disertai oleh salah satu imbuhan baru dapat digunakan dalam
komunikasi yang wajar. Samsuri ( 1982:188 )menamakan bentuk-bentuk
seperti bunga, cinta, sawah, dan kerbau dengan
istilah akar; bentuk-bentukseperti di-,ke-, -i, se-,
ke-an dengan nama afiks atau imbuhan;
dan juang, gurau dengan istilah pokok. Sementara
itu Verhaar (1984:53)berturut-turut dengan istilah dasar afiks atau imbuhan dan akar.
Selain itu ada satu bentuk lagi sepertibelia, renta, siur yang
masing-masing hanya mau melekat pada bentuk muda, tua, dan simpang,
tidak bisa dilekatkan pada bentuk lain. Bentuk seperti itu dinamakanmorfem
unik.
C. SINTAKSIS
Sintaksis
(syntax) adalah pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata, atau dengan
satuan-satuan yang lebih besar, atau antara satuan-satuan yang lebih besar itu
dalam bahasa (Kridalaksana, 1984). Menurut Keraf (1982), sintaksis (Yunani :
sun + tattein = mengatur bersama-sama) adalah bagian dari tata bahasa yang
mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu
bahasa.
Pengertian
sintaksis dapat pula dikatakan bahwa sintaksis adalah salah satu tataran
(level) dalam gramitika (tata bahasa) yang mempersoalkan hubungan antara kata
dengan satuan-satuan yang lebih besar, membentuk suatu konstruksi yang disebut
kalimat. Umumnya, pembicaraan yang lebih meluas dan mendalam dalam studi
sintaksis, selain perangkat-perangkat sintaksis juga deskripsi tentang
pola-pola serta konstituen-konstituennya.
Kata merupakan
satuan terkecil dalam sintaksis, satuan yang lebih besar daripada kata, secara
berturut-turut, ialah frasa, klausa dan kalimat. Sebenarnya dalam kajian
subsistem ilmu bahasa, kata berada pada pada tataran morfologi. Akan tetapi
dalam studi sintaksis keberadaan kata sebagai satuan terkecilnya sangatlah
penting
Sebgai suatu
konstruksi, satuan-satuan sintaksis dibentuk oleh unsur-unsur yang membangun
pola-pola. Suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendeskripsikan pola-pola yang
mendasari satuan-satuan sintaksis serta konstituen-konstituennya lazim disebut analisis sintaksis. Untuk kegiatan
seperti itu, diperlukan perangkat-perangkat analisis yang diharapkan mampu
menjelaskan atau mendeskripsikan pola-pola konstruksi sintaksis.
Perangkat-perangkat itu antara lain: (1) alat sintaksis, (2) satuan sintaksis,
(3) fungsi sintaksis, (4) kategori sintaksis, dan (5) peran sintaksis. Kelima perangkat
sintaksis tersebut akan dikemukakan secara singkat berikut ini.
1. Perangkat Alat
Sintaksis
Perangkat alat sintaksis terdiri dari:
a. Urutan
Sebagai alat sintaksis, urutan mempersoalkan apakah urutan
satuan sintaksis menetukan terwujudnya suatu konstruksi. Untuk mengetahui hal
ini, kita dapat menguji dengan cara menanyakan kepada penutur asli suatu bahasa
apakah urutan yang dimaksud berterima dalam bahasanya atau tidak. Misalnya,
kita dapat menguji” Roti makan ibu” sebagai urutan atau konstruksi berterima?
Bagi penutur bahasa Indonesia, sudah barang tentu akan menolaknya dan akan
mengatakan bahwa urutan yang berterima adalah “ibu makan roti”.
b. Bentuk kata
Sebagaimana halnya urutannya, bentuk kata juga dapat digunakan
untuk mendeskripsikan apakah suatu konstruksi itu gramatikal atau tidak. Dengan
kata lain, apakah munculnya suatu bentuk mempengaruhi gramatikal suatu
konstruksi? Hal ini juga dapat diuji dengan cara menanyakan kepada penutur
bahasa Indonesia. Misalnya, mana yang berterima di antara kedua konstruksi
berikut ini?
a) Roti makan ibu.
b) Ibu makan roti.
Penutur bahasa Indonesia akan menolak konstruksi a) dan menerima
konstruksi b), munculnya afiks di-
pada kata dimakan merupakan syarat
diterimanya konstruksi a).
c. Kata Tugas
Kehadiran kata tugas dalam suatu konstruksi bersifat wajib.
Misalnya, dalam ujaran “Ibu memasak dapur” terdapat unsur yang tidak hadir,
yaitu preposisi di-. Ujaran itu
barulah berterima jika di depan nomina dapur
diletakkan preposisi di, sehingga
ujaran itu selengkanya berbunyi “Ibu memasak di dapur.”
d. Intonasi
Sebagai alat sintaksis, intonasi membatasi satuan-satuan
sintaksis, baik berupa kata, frasa, klausa, maupun berupa kalimat. Dalam bahasa
tulis misalnya, intonasi direalisasikan dengan tanda baca, sedangkan dalam
bahasa lisan direalisasikan dengan nada, irama, dan kesenyapan (intonasi
final). Sebuah konstruksi klausa akan berubah statusnya menjadi kalimat jika
kepada klausa itu diberikan intonasi final.
2. Perangkat Satuan
Sintaksis
Sintaksis dapat dideskripsikan atas kontruksi satuan-satuannya.
Dengan perkataan lain, satuan sintaksis itu disusun oleh satuan-satuan yang
lebih kecil. Setiap konstruksi satuan sintaksis dengan demikian dapat dikenali
jenis (statusnya), apakah kata, frasa, klausa, atau kalimat. Tiap satuan ini
memperlihatkan polanya sendiri-sendiri.
a. Kata
Kata dapat dikeali dari unsur dan proses pembentukannya. Ada
kata yang unsurnya atas satu morfem da nada yang lebih dari satu morfem. Ada
yang mengalami proses gramatikalisasi, seperti afiksasi, reduplikasi,
pemendekan, dan penggabungan; ada pula yang tidak mengalami proses
gramatikalisasi, yaitu kata dasar.
b. Frasa
Frasa dapat dikenali sebagai suatu kelompok kata yang berstrukur
yang bukan klausa dan dapat dipecah menjadi kata. Dalam kaitannya dengan
distribusinya dalam kalimat, ada yang berciri endosentris dan ada pula yang
berciri eksosentris. Dikatakan berciri endosentris apabila frasa itu dalam
distribusinya dapat digantikan oleh unsur-unsurnya. Sebaliknya, dikatakan
berciri eksosentris apabila digantikan oleh distribusinya dalam kalimat tidak
dapat digantikan oleh unsur-unsurnya.
Analisis selanjutnya dapat mengkaji kategori (kelas) kata dari
konstiten frasa itu, apakah nomina, verba, adjektiva, atau yang lain.
c. Klausa
Hal-hal yang dapat dianalisis dari konstruksi klausa, antara
lain: distribusi satuannya dan struktur internalnya.
Berdasarkan distribusinya, klausa dibedakan atas klausa bebas
dan klausa terikat. Disebut klausa bebas karena klausa ini dapat berdiri
sendiri sebagai sebagai kalimat tunggal, sedangkan klausa terikat memiliki ciri
tidak dapat berdiri sendiri sebagai anak tunggal.
Selain itu, berdasarkan struktur internalnya, klausa bebas
dibedakan atas klausa transitif, klausa intransitive, dan klausa ekualif.
Klausa terikat (tak bebas) berdasarkan struktur internalnya dibedakan atas
klausa nominal, klausa adjectival, dan klausa adverbial.
d. Kalimat
Kalimat sebagai satuan sintaksis terbesar dapat dianalisis
berdasarkan lima ukuran, yaitu: (1) jumlah dan macam klausa, (2) struktur
internal klausa utama, (3) jenis tanggapan yang diharapkan, (4) sikap pelaku
perbuatan dalam klausanya, dan (5) ada tdaknya unsur ingkar dalam predikat
utama.
3. Perangkat Fungsi
Sintaksis
Bersama – sama dengan kategori dan peran fungsi sintaksis
memperlihatkan tataran. Tataran paling atas ditempati oleh fungsi tataran di
bawahnya ditempati oleh kateri, dan taran paling bawah ditempati oleh
peran-peran sintaksis.
Fungsi sintaksis itu sendiri tidak memiliki bentuk dan tidak
memiliki makna tertentu. Tetapi harus diisi oleh bentuk tertentu dan makna
tertentu. Fungsi yang dimaksud ini semacam kotak atau slot yang harus diisi.
Menurut Verhaar (1981), dalam tata
kalimat bahasa Indonesia dikenal beberapa fungsi sintaksis, yaitu: Subjek,
Predikat, Objek, dan Keterangan. Sedangkan menurut Greenberg (1966), fungsi-fungsi sintaksis bahasa-bahasa di dunia
(secara universal) terdiri atas: Subjek, Verba, objek, dan Komplemen.
4. Perangkat Kategori
Sintaksis
Di atas dijelaskan bahwa fungsi sintaksis secara konkret adalah
tempat (kotak, slot) yang harus diisi, antara lain oleh pengisi kategorial
(menurut bentuknya). Jadi, kategori adalah pengisi fungsi sintaksis. Menurut Verhaar (1981), dalam bahasa Indonesia
dikenal adanya beberapa kategori sintaksis, antara lain: nomina (kata benda),
verba (kata kerja), adjektiva (kata sifat), preposisi (kata depan), dan
sebagainya. Jadi, kata-kata seperti itu merupakan pengisi kategori sintaksis.
5. Perangkat Peran
Sintaksis
Seperti dikemukakan diatas, peran sintaksis merupakan tataran
paling bahwa dalam tataran analisis sintaksis. Peran sintaksis(peran semantik)
dalam bahasa Indonesia adalah: pelaku (agentif), tindakan (aksi), tujuan/sasaran
(objektif), penerima (benefaktif), penyebab (klausal), alat (instrumentl),
waktu (temporal), tempat (lokatif), sandangan (pasif), dan pemilikan (posesif).
Analisis fungsi, kategori, dan peran sintaksis (peran semantic)
dapat diilustrasikan dengan contoh berikut:
Ali melihat ani
Fungsi : (S) (P) (O)
Kategori: (N) (V) (N)
Peran : (pelaku) (tindakan) (Sasaran/Tujuan)
Di susun oleh:
Kelompok 4
1.
Zulhanah
2.
Aleksius
B. Balur
3.
Afuwun
Munjiyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar